Upah Tukang Pembuat Dak dan Cara Hitung Ongkos Tukang Beserta Kenek Bangunan

Upah Tukang Pembuat Dak dan Cara Hitung Ongkos Tukang Beserta Kenek Bangunan

Sahabat Potensi. Dalam mengerjakan suatu proyek, satu hal yang juga sangat penting untuk dipikirkan adalah soal tukang dan upahnya. Entah itu tukang pembuat dak, tukang yang utama, atau upah tukang yang menjadi kenek bangunan. Untuk menghitung upah tukang sebenarnya cukup mudah, namun sebelumnya, harus memperhatikan jenis upah untuk tukang bangunan.
Cara Menghitung Upah Tukang
Cara Menghitung Upah Tukang

Jenis-Jenis Upah Tukang

Pada dasarnya ada 2 jenis upah tukang yang umum yakni upah harian dan upah borongan. Mari kita bahas satu per satu untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
  1. Upah Harian

Upah harian bukan berarti harus dibayarkan setiap hari, namun upah harian adalah upah yang harus dibayarkan dengan cara menghitung jumlah hari kerjanya. Dan berikut ini contoh cara menghitung jumlah upah yang harus dibayarkan. Besar upah tukang biasanya (rata-rata) Rp. 110.000, dan upah keneknya Rp. 80.000. jumlah hari kerjanya 6 hari. Maka upah kerja yang harus dibayarkan adalah Rp. 180.000×6 hari kerja, menajdi Rp. 1.080.000,00. Namun ada beberapa kelemahan dari sistem upah harian yakni: sering sekali terjadi salah paham antara pekerja dan juga pemilik proyek karena sering sekali para pekerja dianggap lambat. Akibatnya pekerjaan tidak selesai segera ataupun mereka diangap mengulur waktu dengan kerja yang tanpa ada hasil. Tentu saja ini menjadi miskomunikasi untuk pemilik proyek karena pengeluaran biaya bagi upah kerja makin banyak dan besar.
  1. Upah Borongan

Bagaimana dengan upah borongan? Upah borongan adalah upah yang dibayarkan sesuai dengan kesepakatan dari pemilik dan juga pemborong bangunan. Dalam artian, pemilik dan juga pemborong harus mempunyai kisaran harganya. Sehingga, setelah perjanjian dibuat maka tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Ada beberapa hal yang bisa dilihat ketika menghitung upah borongan upah tukang. Ini dapat didasarkan dari beberapa hal yang jika dilihat dari sisi tukang bangunannya adalah bagaimana harga itu dapat memberikan keuntungan dari sisa waktu kerja. Dan jika dilihat dari sisi pemilik bangunan adalah dari sisi harga borongan yang disepakati sebelumnya dengan pemborong dengan nilai yang sebenarnya lebih murah apabila dikerjakan secara harian. Atau bisa jadi sang pemilik rumah tak memiliki banyak waktu untuk mengawasi proses pekerjaan tukang tersebut. Jika sang pemilik rumah merasa akan maksimal dengan sistem borongan maka dengan sistem upah tukang borongan semua sudah akan beres. Bagaimana cara mengitung upah harga borongan untuk tukang? Inti dari harga borongan upah adalah tentang kemampuan para tukang dalam melaksanakan sebuah pekerjaan ditambahkan dengan keuntungan borongan yang diharapkan. Ini adalah rumus sederhana untuk menghitung borongan upah tukang: (Waktu hari pelaksanaan x Upah harian) + keuntungan yang diharapkan = Harga upah borongan Hitungan kasarnya bisa juga seperti ini: Bangunan rumah atau bangunan lain dihitung berdasarkan luasnya, lalu dikalikan dengan taksiran biaya yang dikeluarkan. Contoh: Luas bangunannya= 50 m2. Taksiran harga= Rp. 2.000.000/m2 Maka biaya yang dikeluarkan adalah 50m2 x 2.000.000= Rp. 100.000.000,00 Meskipun tukang bangunan hanya bermodalkan tenaga, namun ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan saat mengambil pekerjaan borongan misalnya saja segi kesehatan tubuh sehingga bisa melaksanakan pekerjaan harian ataupun borongan bangunan selanjutnya. Nah demikian itu tentang upah tukang baik harian ataupun borongan dan bagaimana cara menghitung upah tukang dengan kenek bangunannya. Semoga bermanfaat dan anda bisa lebih teliti dan rinci dalam memperhitungkan. Baca Juga Harga Beton Cor Terbaru
                      Harga Sewa Pompa Beton
 

Informasi & Pemesanan

Kata kunci yang masuk:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *